Jumat, 14 Desember 2012
Ruang Diskusi
<div class="js-kit-comments" permalink=""></div><script src="http://js-kit.com/comments.js"></script><br />
sebuah tv nasional
In 1961, the Indonesian government decided to include the establishment of a national television station as part of the preparations for the 1962 Asian Games to be held in Jakarta. Later that year, the Television Preparation Committee was formed. In October, President Sukarno ordered the building of a studio in Senayan, Jakarta and two television towers. TVRI broadcast its first test transmission, of the Indonesian Independence Day celebrations from the Merdeka Palace transmission on August 17th, 1962. TVRI went on the air with a television set broadcasting stations started Sign-on transmission first on air launched coverage live from the television broadcasting studios event of the 1962 Asian Games opening ceremony on August 24, 1962 under the official name of Televisi Indonesia (TV Indonesia). Two years later, the first of the regional broadcast stations opened in Yogyakarta, Semarang, Medan, Surabaya, Makassar, Manado, Batam, Palembang, Bali and Balikpapan.
In 1974 TVRI became part of the Information Ministry, with the status of a directorate. Its role was to inform the public about government policies.
The first colour television signal was transmitted via a satellite transmission, it took place in 1974. The first colour news bulletin actual coverage standard main information news programmes being the Berita Nasional (National News), Berita Dalam Dunia (News in the World), breaking events segments on Laporan Khusus (Special Report)) and Berita Terakhir (Late News). Subsequently, the first live colour telecast was of the 1974 FIFA World Cup between West Germany and Chile form opening ceremony on June 13, 1974 to final between West Germany and Netherlands from the closing ceremony on July 7, 1974.
TVRI in the late 1970s and 1980s became a well defined mass media component of the national information department. By that time it also had a second channel on Channel 8.
In 1989, TVRI lost its monopoly when the government's sixth Five-Year Plan allowed private television stations to begin broadcasting. the first commercial television station being RCTI.
After the start of the reform era, TVRI's status was changed again and it became responsible firstly to the Ministry of Finance and was then turned into a limited company under the authority of the State Ministry for State-Owned Enterprises and Ministry of Finance.
In 1961, the Indonesian government decided to include the establishment of a national television station as part of the preparations for the 1962 Asian Games to be held in Jakarta. Later that year, the Television Preparation Committee was formed. In October, President Sukarno ordered the building of a studio in Senayan, Jakarta and two television towers. TVRI broadcast its first test transmission, of the Indonesian Independence Day celebrations from the Merdeka Palace transmission on August 17th, 1962. TVRI went on the air with a television set broadcasting stations started Sign-on transmission first on air launched coverage live from the television broadcasting studios event of the 1962 Asian Games opening ceremony on August 24, 1962 under the official name of Televisi Indonesia (TV Indonesia). Two years later, the first of the regional broadcast stations opened in Yogyakarta, Semarang, Medan, Surabaya, Makassar, Manado, Batam, Palembang, Bali and Balikpapan.
In 1974 TVRI became part of the Information Ministry, with the status of a directorate. Its role was to inform the public about government policies.
The first colour television signal was transmitted via a satellite transmission, it took place in 1974. The first colour news bulletin actual coverage standard main information news programmes being the Berita Nasional (National News), Berita Dalam Dunia (News in the World), breaking events segments on Laporan Khusus (Special Report)) and Berita Terakhir (Late News). Subsequently, the first live colour telecast was of the 1974 FIFA World Cup between West Germany and Chile form opening ceremony on June 13, 1974 to final between West Germany and Netherlands from the closing ceremony on July 7, 1974.
TVRI in the late 1970s and 1980s became a well defined mass media component of the national information department. By that time it also had a second channel on Channel 8.
In 1989, TVRI lost its monopoly when the government's sixth Five-Year Plan allowed private television stations to begin broadcasting. the first commercial television station being RCTI.
After the start of the reform era, TVRI's status was changed again and it became responsible firstly to the Ministry of Finance and was then turned into a limited company under the authority of the State Ministry for State-Owned Enterprises and Ministry of Finance.
Minggu, 23 September 2012
starlight: ucapan hari raya dan minta maaf dengan kata-kata p...
starlight: ucapan hari raya dan minta maaf dengan kata-kata p...: kala gema takbir,....berkumandang luapan syukur banjiri qalbu, membelah samudera cinta membuka pintu cahaya syurga..... demi mereb...
starlight: Refresh sejuta mimpi
starlight: Refresh: rasa yang sampai detik ini saya impikan adalah menjadi santri,..... santri yang bener-bener berada satu tempat dengan seorang kyai,.. ya...
Refresh
rasa yang sampai detik ini saya impikan adalah menjadi santri,.....
santri yang bener-bener berada satu tempat dengan seorang kyai,..
yang selalu menimba ilmu pagi,....siang sore malam,....mencari ilmu,...dengan mengaji,..mengaji,..mengaji!!!
tapi,..tak sampi jua aku dapatkan .....
kenapa disaat aku,.ingin...
belum ada jalan,...yang aku dapatkan untuk kearah mondok,....
hanya keinginan,...keinginan,...karena bagiku seorang santri,...pondok,...adalah tempat yang baik untuk menimba ilmu akherat, karena bila kita cari dirumah kita,.pasti tidak akan fokus, tidak akan sampai,..terlebih lagi tidak ada seorang guru untuk kita jadikan pedoman,...selain orang tua kita,..yang mengajarkan kebaikan,...
dahulu pernah di tawarkan untuk mondok,..oleh seorang kakak
Bagaimana kalau kamu mondok dengan sekolah di MTS..(dengan bahagianya aku bilang,....YA!!! aku mau)
tapi kemudian kakaku bilang,...sayang uangnya gak ada untuk mondok,....
aku pun terpukul,...dan perasaan dalam hatiku menangis,....menjerit,....karena tidak jadi,...karena aku ingin,,,,,ingin,,,,dan ingin sekali mondok dengan sekolah ....
akhirnya aku hanya bisa sekolah di smp itu pun aku mendapatkan potongan biaya untuk sekolah di smp tersebut.
tiga tahun berlalu,.....
setelah lulus,...
kakaku bilang kembali kepada ku tentang sekolah sambil mondok di aliyyah
tapi lagi-lagi karena tidak ada biaya akhirnya aku tidak jadi mondok sambil sekolah.
aku bingung ingin melanjutkan sekolah atau tidak,....karena uang belum ada,...dan juga seragam pun tak punya.....
akhirnya kakaku bilang dengan kepala sekolah smpbahwa aku disuruh untuk melanjutkan sekolah di sma tersebut,..(karena sekolah smp dan sma adalah satu tempat)...akhirnya aku dapat melanjutkan sekolah di sma tersebut,..itu-pun aku dapat potongan biaya kembali dari kepala sekolah tersebut......
akhirnya aku sekolah di sma terseut sampai aku lulus.
setelah itu aku masih berharap ingin mondok setelah sekolah,..tapi lagi-lagi karena tak ada biaya untuk mondok,..akhirnya aku bekerja di sebuah rental komputer ini sampai sekarang.
ya alloh,..aku mohon,...tolong aku ....
aku kepingin mondok,...mondok.....mondok,....
ingin merasakan menjadi seorang santri,....santri yang baik,...yang insya alloh dapat berguna ,.khususnya untuk diriku sendiri dan untuk orang lain....ya alloh
dapat menjadi anak yang sholeh,...yang selalu mendoakan orang tuanya,....
ya alloh,....
kabulakn doaku ya alloh,....aamiin ya robbal 'alamin
santri yang bener-bener berada satu tempat dengan seorang kyai,..
yang selalu menimba ilmu pagi,....siang sore malam,....mencari ilmu,...dengan mengaji,..mengaji,..mengaji!!!
tapi,..tak sampi jua aku dapatkan .....
kenapa disaat aku,.ingin...
belum ada jalan,...yang aku dapatkan untuk kearah mondok,....
hanya keinginan,...keinginan,...karena bagiku seorang santri,...pondok,...adalah tempat yang baik untuk menimba ilmu akherat, karena bila kita cari dirumah kita,.pasti tidak akan fokus, tidak akan sampai,..terlebih lagi tidak ada seorang guru untuk kita jadikan pedoman,...selain orang tua kita,..yang mengajarkan kebaikan,...
dahulu pernah di tawarkan untuk mondok,..oleh seorang kakak
Bagaimana kalau kamu mondok dengan sekolah di MTS..(dengan bahagianya aku bilang,....YA!!! aku mau)
tapi kemudian kakaku bilang,...sayang uangnya gak ada untuk mondok,....
aku pun terpukul,...dan perasaan dalam hatiku menangis,....menjerit,....karena tidak jadi,...karena aku ingin,,,,,ingin,,,,dan ingin sekali mondok dengan sekolah ....
akhirnya aku hanya bisa sekolah di smp itu pun aku mendapatkan potongan biaya untuk sekolah di smp tersebut.
tiga tahun berlalu,.....
setelah lulus,...
kakaku bilang kembali kepada ku tentang sekolah sambil mondok di aliyyah
tapi lagi-lagi karena tidak ada biaya akhirnya aku tidak jadi mondok sambil sekolah.
aku bingung ingin melanjutkan sekolah atau tidak,....karena uang belum ada,...dan juga seragam pun tak punya.....
akhirnya kakaku bilang dengan kepala sekolah smpbahwa aku disuruh untuk melanjutkan sekolah di sma tersebut,..(karena sekolah smp dan sma adalah satu tempat)...akhirnya aku dapat melanjutkan sekolah di sma tersebut,..itu-pun aku dapat potongan biaya kembali dari kepala sekolah tersebut......
akhirnya aku sekolah di sma terseut sampai aku lulus.
setelah itu aku masih berharap ingin mondok setelah sekolah,..tapi lagi-lagi karena tak ada biaya untuk mondok,..akhirnya aku bekerja di sebuah rental komputer ini sampai sekarang.
ya alloh,..aku mohon,...tolong aku ....
aku kepingin mondok,...mondok.....mondok,....
ingin merasakan menjadi seorang santri,....santri yang baik,...yang insya alloh dapat berguna ,.khususnya untuk diriku sendiri dan untuk orang lain....ya alloh
dapat menjadi anak yang sholeh,...yang selalu mendoakan orang tuanya,....
ya alloh,....
kabulakn doaku ya alloh,....aamiin ya robbal 'alamin
Selasa, 28 Agustus 2012
ucapan hari raya dan minta maaf dengan kata-kata puitis
kala gema takbir,....berkumandang
luapan syukur banjiri qalbu,
membelah samudera cinta
membuka pintu cahaya syurga.....
demi merebut hari kemenangan.
mari,...kita sambut hari kemenangan dengan,......
demi merebut hari kemenangan.
mari,...kita sambut hari kemenangan dengan,......
menyambung kembali benang yang patah,
merangkai kembali serpihan kaca
memadamkan api amarah dalam dada,
menghapus noda hitam dalam jiwa
demi menyambut hari kemenangan
mencapai kebahagiaan
dihari nan fitri.....
Langganan:
Postingan (Atom)
